Tren Wisata Indonesia 2025 Mencari Playground Lokal
Table of content:
Tren wisata mengalami transformasi yang signifikan seiring dengan perubahan kebutuhan dan preferensi masyarakat. Di Indonesia, tren ini sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti libur panjang dan kemudahan akses transportasi, yang mendorong masyarakat untuk menjelajahi lebih banyak destinasi.
Tifanny Tjiptoning, Chief Strategy Officer dari platform perjalanan ternama, mengungkapkan bahwa tahun 2025 akan menjadi tahun yang penuh kejutan bagi industri pariwisata di Indonesia. Setiap kali ada long weekend, lonjakan permintaan untuk perjalanan wisata sangat terasa, menciptakan dampak besar pada sektor transportasi, akomodasi, dan aktivitas wisata.
“Lonjakan ini terlihat pada semua kategori pariwisata, dari transportasi hingga atraksi wisata,” ujar Tifanny dalam acara yang diadakan di Jakarta. Dengan semakin banyaknya orang yang merencanakan perjalanan, penting untuk memahami bagaimana perilaku dan preferensi mereka berubah.
Pentingnya Transportasi dalam Perencanaan Wisata
Banyak pelancong saat ini cenderung merencanakan pergerakan mereka secara bertahap. Biasanya, mereka akan membeli tiket transportasi terlebih dahulu sebelum memutuskan destinasi dan akomodasi.
Tifanny menekankan bahwa pelancong ingin memastikan harga tiket transportasi yang lebih terjangkau sebelum harga tersebut meningkat. “Karena harga tiket transportasi sangat dinamis, mereka cenderung membeli tiket jauh-jauh hari,” katanya.
Setelah transportasi, para pelancong biasanya memesan akomodasi dan atraksi wisata yang sesuai dengan rencana perjalanan mereka. Media sosial berperan besar dalam proses pencarian ini, membagikan konten visual dan memudahkan para wisatawan menemukan destinasi menarik.
Perkembangan Transportasi Darat yang Signifikan
Tahun ini, terdapat peningkatan signifikan dalam pembelian tiket untuk moda transportasi darat seperti kereta dan bus. Pembangunan infrastruktur, seperti jalan Tol Trans-Jawa, menjadi faktor pendorong bagi perkembangan ini.
Tifanny mencatat bahwa pergeseran dari moda transportasi udara ke transportasi darat semakin jelas. “Ini mencerminkan bagaimana pelancong mulai memprioritaskan kenyamanan dan aksesibilitas,” jelasnya.
Permintaan yang tinggi akan transportasi darat menunjukkan bahwa masyarakat semakin terbuka terhadap beragam cara berkendara menuju destinasi impian mereka. Ini menjadi sinyal positif bagi perkembangan sektor transportasi di Indonesia.
Pergeseran Menuju Akomodasi Non-Hotel
Fenomena menarik terlihat di sektor akomodasi, di mana akomodasi non-hotel, seperti villa dan rumah sewa, semakin diminati. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan akomodasi non-hotel yang mencapai 44 persen.
Sementara hotel hanya tumbuh 19 persen dan apartemen 13 persen, pergeseran ini terjadi karena banyak pelancong yang ingin bercengkerama dengan keluarga dan teman-teman dalam satu lokasi.
“Akomodasi yang lebih besar memungkinkan kita untuk tidak terpisah di dalam kamar hotel,” tambah Tifanny. Ini menunjukkan bahwa pelancong mengedepankan kualitas pengalaman berlibur mereka.
Minat Terhadap Atraksi Wisata dan Playground Meningkat
Tren lainnya yang patut dicatat adalah peningkatan yang dramatis dalam kunjungan ke playground dan atraksi wisata lainnya. Data menunjukkan bahwa kunjungan ke playground meningkat sampai 71 persen pada tahun ini.
Salah satu penyebabnya adalah pembukaan banyak tempat wisata baru, khususnya playground di luar Pulau Jawa. Kembali, media sosial berperan dalam menggugah minat masyarakat untuk mengunjungi lokasi-lokasi tersebut.
“Tentu saja, bagi keluarga urban, playground menjadi daya tarik tersendiri,” terang Tifanny. Ini menunjukkan bagaimana kebutuhan akan ruang rekreasi semakin penting dalam kehidupan masyarakat.
Destinasi Wisata Lokal Masih Mendominasi Pilihan Wisatawan
Pada tahun 2025, destinasi wisata dalam negeri tetap menjadi pilihan utama bagi para pelancong. Sekitar 75 persen wisatawan masih memilih menjelajahi keindahan alam dan budaya yang ada di Indonesia, sementara 6 persen melangkah keluar negeri.
Preferensi destinasi juga terlihat jelas, dengan Pulau Jawa menjadi pusat perhatian. Yogyakarta dan Bandung muncul sebagai lokasi wisata terpopuler, diikuti oleh Jakarta dan Surabaya yang juga menarik banyak kunjungan.
Bali tetap menjadi magnet bagi wisatawan domestik dan internasional. Selain itu, wilayah-wilayah lain seperti Lombok, Medan, dan Makassar juga mulai diminati sebagai alternatif destinasi menarik.









