Peran Kunci Perempuan dalam Mengatasi Krisis Air menurut Retno Marsudi
Table of content:
Perubahan iklim dan krisis air menjadi tantangan signifikan yang dialami dunia saat ini. Di tengah tantangan tersebut, peran perempuan sebagai pengelola sumber daya alam sangat krusial untuk menciptakan solusi yang berkelanjutan.
Pada suatu acara yang diadakan untuk merayakan Hari Ibu, Retno Marsudi yang merupakan Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Isu Air, menyoroti pentingnya kontribusi perempuan dalam mengatasi masalah air di tingkat global. Melalui berbagai data dan fakta, ia menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan dapat membawa hasil yang lebih baik dan efektif.
Arngetnya, perempuan bukan hanya menjadi segmen yang terpisahkan dari masyarakat, tetapi juga kunci menuju keberlanjutan dan pembangunan yang lebih adil.
Pentingnya Keterlibatan Perempuan dalam Isu Air Global
Retno Marsudi menjelaskan bahwa perempuan memiliki peran yang sangat besar dalam mengelola sumber daya air. Penunjukan perempuan Indonesia sebagai utusan khusus PBB merupakan langkah signifikan untuk memberikan ruang kepada perempuan dalam memimpin isu yang krusial ini.
Menurutnya, negara anggota PBB memiliki keyakinan bahwa perempuan, jika diberikan kesempatan, dapat memimpin dengan baik dalam menangani tantangan yang berkaitan dengan air. Data menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan dapat membuat proyek-proyek menjadi lebih efektif antara 6 hingga 7 kali lipat.
Contoh konkret yang diberikan Retno adalah bahwa saat perempuan terlibat dalam proyek air minum di India, hasil proyek tersebut mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini mendemonstrasikan bahwa kehadiran perempuan dalam proses pengambilan keputusan sangat berpengaruh pada keberhasilan sebuah proyek.
Statistik Mencengangkan tentang Krisis Air di Seluruh Dunia
Selama pembicaraannya, Retno mencatat bahwa lebih dari 75 persen populasi dunia diperkirakan akan terdampak oleh kekeringan pada tahun 2050. Di sisi lain, setiap hari terdapat anak-anak di bawah usia 5 tahun yang meninggal akibat masalah sanitasi dan ketersediaan air bersih yang minim.
Sekitar satu dari empat orang di dunia tidak memiliki akses terhadap air minum yang aman, sementara separuh dari populasi tidak memiliki akses terhadap sanitasi. Hal ini sangat memprihatinkan, mengingat air adalah sumber kehidupan yang fundamental.
Retno juga mengingatkan bahwa bencana terkait air semakin meningkat setiap tahunnya. Dalam satu tahun saja, kerugian ekonomi akibat bencana air mencapai angka yang luar biasa, yaitu US$550 miliar. Ini adalah masalah yang perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak.
Perempuan dan Masa Depan Berkelanjutan
Melalui seluruh paparan ini, Retno menegaskan bahwa kepemimpinan perempuan dalam isu-isu lingkungan bukanlah sekadar sebuah nilai tambah. Sebaliknya, hal ini merupakan sebuah prasyarat untuk mencapai keberlanjutan dan keadilan di masa depan.
Memberdayakan perempuan, ujar Retno, bukan hanya tuntutan moral, tetapi merupakan fondasi utama untuk menciptakan dunia yang lebih baik. Ketika perempuan diberikan kekuatan untuk mengelola sumber daya, mereka tidak hanya berkontribusi pada perlindungan lingkungan tetapi juga masa depan umat manusia secara keseluruhan.
Retno sangat percaya bahwa saat perempuan bangkit, planet ini akan bergerak maju. Kesetaraan hak asasi manusia dan pemberdayaan perempuan adalah kunci untuk perubahan positif yang diharapkan oleh seluruh masyarakat global.








