Stres Bisa Picu GERD Selain Telat Makan
Table of content:
Gastroesophageal reflux disease (GERD) bukan hanya sekadar masalah pencernaan yang sering diabaikan. Banyak orang beranggapan bahwa masalah ini hanya berkaitan dengan pola makan yang buruk, tetapi sebenarnya, kondisi ini juga dipengaruhi oleh faktor psikologis seperti stres dan kecemasan.
Dokter spesialis penyakit dalam, Ari Fahrial Syam, mengungkapkan bahwa GERD adalah penyakit kompleks yang tidak bisa dianggap remeh. Mengatasi GERD memerlukan pemahaman yang lebih dalam mengenai penyebab dan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat keparahannya.
Peningkatan asam lambung pada GERD disebabkan oleh berbagai hal, termasuk kondisi mental penderita. Oleh karena itu, penting untuk menyadari bahwa stres dan kecemasan dapat memperburuk gejala yang ada.
Memahami GERD: Apa Itu dan Mengapa Terjadi?
GERD terjadi ketika asam lambung yang seharusnya tetap berada di lambung justru naik ke kerongkongan. Ini menghasilkan sensasi terbakar yang tidak nyaman, dan jika dibiarkan dapat menyebabkan komplikasi lebih lanjut.
Produksi asam lambung yang berlebihan dapat dipicu oleh pola makan yang buruk. Stres dan kecemasan menjadi faktor yang sangat signifikan dalam memperburuk kondisi ini, seringkali menciptakan siklus yang sulit untuk dipecahkan.
Ketika seseorang mengalami stres, produksi asam lambung dapat meningkat, menciptakan rasa tidak nyaman di area dada. Kondisi ini sering kali menimbulkan kekhawatiran pada pasien, yang membuat mereka merasa seolah-olah sedang mengalami masalah jantung.
Hubungan Antara GERD dan Kesehatan Psikologis
Stres dan kecemasan dapat memicu serangan GERD, tetapi pengaruhnya bersifat dua arah. Gejala GERD itu sendiri dapat memicu kecemasan, menciptakan lingkaran yang sulit diputus.
Banyak pasien GERD melaporkan merasa tertekan dan cemas akibat gejala yang mereka rasakan. Ini bisa menciptakan masalah mental yang lebih dalam yang memerlukan penanganan lebih lanjut.
Pengelolaan GERD perlu dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya dengan fokus pada pengendalian asam lambung, tetapi juga memperhatikan kesehatan mental pasien. Penanganan yang optimal mengharuskan kedua aspek tersebut ditangani secara bersamaan.
Gejala GERD dan Dampaknya pada Kesehatan
Beberapa gejala umum GERD termasuk mual, sakit perut, dan benjolan di tenggorokan. Gejala ini terkadang tumpang tindih dengan kondisi kecemasan, sehingga sulit untuk membedakan keduanya.
Meskipun terdapat gejala yang mirip, ada juga spektrum gejala yang bisa ditunjukkan masing-masing kondisi. Pemahaman yang jelas tentang perbedaan ini sangat penting untuk diagnosis dan penanganan yang tepat.
Gaya hidup juga memainkan peranan penting dalam kemunculan GERD. Kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, dan kelebihan berat badan dapat menggagalkan pengobatan dan meningkatkan risiko terjadinya refluks asam.
Pentingnya Mendiagnosis GERD dengan Tepat
GERD dapat memengaruhi semua usia, meskipun lebih umum terjadi pada individu berusia 20 hingga 40 tahun. Namun, pola makan yang kurang baik juga menyebabkan kasus GERD meningkat pada anak-anak.
Untuk memastikan diagnosis yang akurat, pasien yang tidak merasakan perbaikan dengan pengobatan standar disarankan menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Beberapa tes, termasuk endoskopi dan pemeriksaan pH metri, bisa digunakan untuk mengevaluasi tingkat keparahan kondisi mereka.
Meskipun terdengar menakutkan, penting untuk diketahui bahwa GERD adalah penyakit yang dapat dikelola. Dengan pendekatan yang tepat, baik dalam pengobatan fisik dan mental, gejala dapat diminimalkan secara signifikan.









