6 Pesona Shayna Lelyana Sriro Cucu Pakubuwono XIII dari Keraton ke Kampus Dunia
Table of content:
Shayna Lelyana Sriro adalah sosok menarik dalam lingkaran kebangsawanan Indonesia, merupakan cucu dari mendiang Pakubuwono XIII. Dengan kedalaman latar belakang keluarga yang kaya akan sejarah, Shayna menjadi bagian penting dari Keraton Solo dengan sejarah yang panjang dan prestisius.
Dengan gelar kebangsawanan Bendara Raden Ajeng (BRAj), Shayna tidak hanya meneruskan warisan keluarganya, tetapi juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan budaya. Ibu dari Shayna, GKR Devi Lelyana Dewi, memberikan landasan yang kuat bagi anaknya untuk berperan aktif dalam masyarakat.
Shayna memiliki pelatihan formal di luar negeri, di mana pendidikan tinggi yang diperolehnya membentuk cara pandangnya terhadap dunia. Belajar di University of Sydney (USyd) memberikan pengalaman internasional yang berharga bagi Shayna.
Pendidikan Tinggi Shayna Lelyana Sriro di Luar Negeri
Pendidikan yang diperoleh Shayna bukan sekadar gelar akademis, tetapi juga menjadi sarana untuk memperluas jaringan dan perspektif. University of Sydney dikenal sebagai institusi yang memiliki reputasi tinggi dan memberikan pendekatan yang kuat terhadap pengembangan karakter mahasiswanya.
Selama menempuh studi di Australia, Shayna belajar untuk mengembangkan kemampuannya di bidang yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Pengalaman di negara yang berbeda ini meningkatkan wawasan budaya dan sosialnya, yang sangat berharga dalam konteks kebudayaan Jawa dan keraton.
Selain itu, Shayna juga aktif dalam beragam organisasi kemahasiswaan yang memungkinkan dirinya untuk berkontribusi pada isu-isu sosial. Melalui kegiatan tersebut, ia tidak hanya mendapatkan pengalaman, tetapi juga membawa nilai-nilai budaya Indonesia ke kancah internasional.
Peran Shayna Lelyana Sriro dalam Kegiatan Keraton Solo
Walaupun berkuliah jauh dari tanah air, Shayna tetap terikat dengan tradisi dan kegiatan di Keraton Solo. Kehadirannya dalam acara-acara penting menunjukkan komitmen dan tanggung jawab sebagai anggota keluarga kerajaan. Salah satu momen yang paling berkesan adalah saat dia menghadiri pemakaman kakeknya, Pakubuwono XIII.
Kehadiran Shayna di acara tersebut menjadi simbol peralihan generasi yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan Keraton. Dia mengerti betapa pentingnya mempertahankan warisan budaya dan tradisi, serta perannya dalam menjaga kelangsungan sejarah keraton.
Shayna juga berperan aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan yang diselenggarakan oleh Keraton. Keterlibatannya dalam kegiatan sosial ini membuktikan bahwa sebagai bangsawan, ia memiliki tanggung jawab untuk membantu masyarakat sekitar.
Sikap Politik Shayna Lelyana Sriro Terkait Suksesi Keraton Surakarta
Dalam konteks suksesi Keraton Surakarta, pandangan Shayna sangat jelas. Dia memberikan dukungan penuh kepada KGPAA Hamangkunegoro untuk menjadi raja berikutnya, Pakubuwono XIV. Ini menunjukkan kecintaannya terhadap warisan keluarga dan komitmennya untuk melanjutkan tradisi yang telah ada selama berabad-abad.
Dukungan Shayna terhadap penerus tahta menc отражает komitmennya kepada nilai-nilai kekerabatan dan integritas budaya. Hal ini juga sejalan dengan pandangan ibundanya, GKR Devi Lelyana Dewi, yang memiliki harapan serupa untuk masa depan Keraton.
Shayna menyadari bahwa kepemimpinan dalam Keraton tidak hanya bertanggung jawab terhadap keluarga, tetapi juga terhadap masyarakat luas. Melalui dukungannya, ia menunjukkan bahwa Keberlangsungan Keraton Surakarta sangat bergantung pada keterlibatan generasi muda.
Identitas Budaya Shayna Lelyana Sriro dan Sebutan ‘Bule’ atau ‘Blasteran’
Shayna sering disebut ‘bule’ atau ‘blasteran’, yang mengacu pada campuran budaya yang melekat padanya. Ayahnya adalah seorang warga negara asing, yang memberikan warna tersendiri pada identitasnya. Sebutan ini tidak hanya terkait dengan penampilan fisiknya, tetapi juga mencerminkan pengalaman hidupnya yang kaya.
Identitas campuran ini memberikan Shayna keunikan dibandingkan dengan anggota keraton lainnya. Dia membawa perspektif internasional yang lebih luas, yang diharapkan dapat memperkaya tradisi dan budaya keraton. Shayna memanfaatkan latar belakangnya untuk menjembatani dua dunia yang berbeda.
Kombinasi antara tradisi Jawa dan pengaruh kebudayaan global menjadikan Shayna figur simbolis yang menarik untuk generasi muda. Dia berharap untuk menjadi inspirasi bagi para pemuda lainnya agar tetap menghargai akar budaya mereka sambil membuka diri terhadap ide-ide baru.









