Dorong Sutradara Muda di Film Legenda Kelam Malin Kundang Tanpa Campuri Urusan Kreatif
Table of content:
Dalam pendekatan terbarunya, Joko Anwar mengungkapkan bahwa Legenda Kelam Malin Kundang tidak hanya mengangkat kisah rakyat, tetapi juga mengajak penonton membongkar ulang cara kita memberi label pada seseorang. Ia menekankan bahwa masyarakat kerap terburu-buru menilai tanpa memahami latar belakang atau beban yang harus dijalani individu tersebut.
“Ya mungkin itu yang kita ingin sampaikan adalah mari kita membongkar lagi cara berpikir kita dengan sangat gampang memberikan label seseorang. Label anak durhaka, label perempuan nakal karena kalau kita lihat di Legenda Kelam Malin Kundang dengan sangat gampang sebelumnya kita memberikan label kepada individu-individu tanpa kita berusaha untuk memahami apa yang terjadi kepada mereka sehingga situasi tersebut mereka harus jalani,” tuturnya.
Lebih jauh, Joko menegaskan bahwa film ini tidak menghadirkan tokoh hitam-putih. Setiap karakter dipahami sebagai manusia dengan lapisan kehidupan yang kompleks.
Proses riset yang dilakukan pun tidak hanya mencakup folklor versi Sumatera Barat, tetapi juga berbagai versi dari wilayah lain, hingga membawa tim pada pemahaman bahwa cerita Malin Kundang telah menjadi milik bangsa Indonesia secara luas.
“Di film ini tidak ada villain, tidak ada seoarang yang punya predikat baik atau jahat saja. Semua orang memiliki kehidupan yang sangat kompleks. Itu challenge yang coba untuk kita tampilkan. Tapi kita riset bukan cuma soal folklor cerita Malin Kundang yang ternyata banyak versi. Enggak cuma dari Sumatera Barat aja, termasuk dari Malaysia bahkan di pulau Kalimantan ada yang mirip dengan Malin Kundang. Jadi kita akhirnya berkesimpulan Malin Kundang ini milik bangsa Indonesia,” tegasnya.
Pendekatan Baru dalam Adaptasi Cerita Rakyat
Adaptasi cerita rakyat pada umumnya seringkali terjebak dalam interpretasi yang baku. Namun, Joko Anwar berupaya menghadirkan nuansa segar dan kritis terhadap kisah Malin Kundang. Dalam pandangannya, pembaruan ini memberi ruang kepada penonton untuk lebih memahami kompleksitas karakter dan konteks di balik alur cerita.
Ketika sebuah cerita dikisahkan ulang, penting untuk mempertimbangkan variasi yang ada. Joko Anwar tidak hanya menggali folklor dari Sumatera Barat, tetapi juga penelitian yang mencakup berbagai kultur lain yang memiliki kemiripan dengan Malin Kundang. Ini menjadi sebuah usaha untuk merayakan keberagaman di dalam kesatuan narasi.
Pentingnya riset yang mendalam tercermin dalam hasil akhir filmnya, di mana penonton tidak hanya melihat tokoh sebagai hitam atau putih. Melainkan, mereka diperlihatkan dengan sisi lain dari sosok Malin Kundang yang mungkin selama ini terabaikan, dan menjadi ajakan untuk memahami perspektif berbeda.
Kesadaran bahwa setiap karakter memiliki latar belakang yang rumit menjadikan film ini lebih dari sekadar hiburan. Ia menjelma menjadi refleksi sosial yang mengajak penontonnya untuk merefleksikan cara mereka menilai orang lain, sebuah pesan yang sangat relevan di tengah masyarakat saat ini.
Meneliti Masyarakat dan Budaya Lokal
Salah satu aspek menarik dari proses kreatif Joko adalah fokus pada riset yang melibatkan berbagai kebudayaan. Dengan menyelidiki latar belakang folklor, tim film dapat menciptakan narasi yang tidak hanya akurat tetapi juga relevan. Hal ini menjadi dasar untuk mengembangkan cerita yang lebih mendalam.
Melalui pendekatan ini, penonton tidak hanya disuguhkan kisah Malin Kundang, tetapi juga gambaran tentang nilai-nilai dan norma yang ada di masyarakat. Film ini berfungsi sebagai medium untuk mendiskusikan tema-tema hangat seperti pengkhianatan, pengampunan, dan tanggung jawab sosial.
Karena riset yang komprehensif, karakter yang ditampilkan pun memiliki keunikan yang mencerminkan budaya asal mereka. Ini memberikan kredibilitas pada film, dan penonton dapat merasakan bahwa cerita ini tidak hanya diciptakan sekadar untuk menghibur, tetapi juga menyentuh dan menyadarkan.
Joko Anwar berusaha menjadikan film ini sebagai titik temu antara seni dan kesadaran sosial. Dengan memahami dan menghargai berbagai budaya, ia berharap film ini dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk lebih menghargai kisah-kisah bangsa.
Tantangan Menciptakan Narasi yang Menarik
Menciptakan film berdasarkan cerita rakyat bukanlah tanpa tantangan. Salah satunya adalah menghidupkan kisah yang sering dianggap klise. Joko Anwar menghadapi tantangan ini dengan menyempurnakan aspek-aspek ceritanya agar lebih modern dan relevan untuk audiens masa kini.
Dalam proses produksinya, dia menyadari pentingnya kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mendapatkan pandangan yang beragam. Pendapat dari masyarakat, peneliti, hingga seniman semua dimasukkan ke dalam pengembangan cerita. Ini menghasilkan skenario yang lebih kaya dan beragam.
Sala satu hal yang mengesankan adalah kemampuan Joko untuk memadukan elemen tradisional dengan modernitas. Dengan menggunakan teknik sinematografi yang inovatif dan penggarapan yang menarik, film ini berhasil menghidupkan kembali kisah yang sudah dikenal tanpa kehilangan esensinya.
Dengan menyajikan unsur hiburan serta pesan moral yang kuat, film ini dapat menarik perhatian penonton. Hal ini penting agar penonton mengikuti perkembangan cerita dan merasakan emosi yang terjadi di dalamnya.










