Morgan Freeman Marah Diteriak AI, Siap Ambil Tindakan Hukum Merasa Dirampok
Table of content:
Aktor senior Morgan Freeman saat ini sedang menghadapi situasi yang cukup menegangkan terkait dengan penggunaan kecerdasan buatan (AI) yang meniru suara dan penampilannya tanpa izin. Hal ini tentu saja membuatnya merasa terancam dan keberatan, terutama karena praktik ini sudah terjadi lebih dari sekali.
Berdasarkan informasi terbaru, Freeman mengungkapkan bahwa pengacaranya tengah sibuk menangani banyak kasus yang berkaitan dengan masalah ini. Tindakan meniru suara dan persona seorang aktor tanpanya membuatnya merasa dirugikan, bahkan merasakannya sebagai bentuk perampokan intelektual.
Dalam sebuah wawancara, ia mengungkapkan rasa frustrasinya dengan mengatakan bahwa sebagai seorang aktor, ia tidak menyetujui adanya imitasi yang tidak sah. Ia berpendapat bahwa apabila seseorang menghasilkan karya berdasarkan persona orang lain tanpa izin, itu sama saja mencuri hak seseorang.
Morgan Freeman dan Dunia Kecerdasan Buatan yang Semakin Berkembang
Dinamika dunia film dan teknologi kini semakin kompleks, terutama dengan kemunculan AI yang mampu meniru berbagai aspek kehidupan manusia. Freeman sendiri tidak segan-segan untuk mengungkapkan ketidakpuasan dengan situasi ini, menunjukkan bahwa perkembangan teknologi harus diimbangi dengan etika yang jelas.
Dia menyoroti pentingnya regulasi dalam penggunaan AI, di mana para kreator dan pemain industri harus memiliki batasan agar tidak merugikan satu sama lain. Menurutnya, isu ini bukan hanya tentang hak individu, tapi juga tentang integritas industri film itu sendiri.
Freeman pun mengingatkan bahwa sebagai aktor, ia dibayar untuk melakukan perannya. Ketika AI mulai mengambil alih, ia merasa bahwa pekerjaan yang seharusnya menjadi haknya menjadi diambil begitu saja, menjadikan tanda tanya besar untuk masa depan profesi ini.
Menanggapi Kemunculan Aktris AI Tilly Norwood
Kemunculan aktris AI bernama Tilly Norwood juga menarik perhatian Freeman. Ia mengungkapkan bahwa tidak ada yang menyukai keberadaan seorang aktris digital yang tidak nyata, karena keberadaannya dianggap mengancam peran dan kesempatan bagi aktor manusia.
Dari sudut pandangnya, hal ini menciptakan ketidakadilan di industri film, di mana aktris yang dihasilkan oleh teknologi berpotensi mengambil alih peran yang seharusnya diberikan kepada aktor yang memiliki bakat nyata. Menurutnya, meski teknologi membawa kemajuan, faktor kemanusiaan tetaplah tidak bisa diabaikan.
Freeman menambahkan bahwa keberadaan AI di industri hiburan dapat mengundang konflik di masa depan. Masyarakat dan industri harus memperdebatkan bagaimana seharusnya menjaga keseimbangan antara inovasi dan perlindungan terhadap hak-hak individu dalam proses kreatif.
Kecerdasan Buatan dan Konsekuensi yang Harus Dihadapi
Salah satu tantangan utama yang dihadapi oleh Freeman dan aktor lainnya adalah bagaimana menghadapi potensi penyalahgunaan teknologi AI. Dengan semakin banyaknya produk teknologi yang dapat meniru perilaku manusia, langkah-langkah untuk melindungi hak cipta dan hak atas nama dan suara menjadi semakin mendesak.
Tidak hanya di dunia film, konsekuensi dari penggunaan AI yang tidak etis dapat berimbas luas, termasuk pada bidang musik, seni, dan literatur. Oleh karena itu, upaya untuk membangun diskusi yang konstruktif mengenai moral dan etikanya sangat diperlukan.
Freeman percaya bahwa dunia hiburan harus menjadi arena yang memprioritaskan keaslian dan orisinalitas. Ia mengajak rekan-rekannya untuk bersikap lebih tegas terhadap penggunaan teknologi yang dapat merusak integritas sektor ini.







