Sering Terbangun Buang Air Kecil Malam Hari, Apakah Sehat?
Table of content:
Sering terbangun di malam hari untuk buang air kecil merupakan pengalaman yang umum dialami banyak orang. Fenomena ini dikenal dengan istilah nokturia, dan dapat memengaruhi kualitas tidur seseorang, terutama bagi mereka yang berusia di atas 30 tahun.
Menurut penelitian, hampir sepertiga orang dewasa di kelompok usia tersebut mengalami masalah ini, yang semakin meningkat pada mereka yang berusia 65 tahun ke atas. Diperkirakan, keadaan ini bisa menandakan berbagai masalah kesehatan lainnya.
Mengapa Nokturia Terjadi? Ketahui Faktornya
Penyebab utama nokturia biasanya dapat dikategorikan ke dalam dua faktor besar. Pertama, kondisi ini dapat disebabkan oleh produksi urine yang berlebihan di malam hari, atau kapasitas kandung kemih yang menurun.
Seiring bertambahnya usia, orang mengalami perubahan hormonal yang dapat memengaruhi fungsi ginjal dan otot panggul. Hal ini membuat lansia lebih rentan terhadap nokturia dibandingkan kelompok usia yang lebih muda.
Kondisi medis seperti diabetes dan hipertensi juga dapat memperburuk situasi, karena dapat mengakibatkan ginjal bekerja lebih keras untuk produksi urine. Karenanya, mengelola kondisi tersebut menjadi sangat penting.
Ibu hamil merupakan kelompok lain yang sering mengalami nokturia. Tekanan dari rahim pada kandung kemih dapat menyebabkan mereka sering merasa perlu ke toilet, terutama di malam hari.
Bukan hanya ibu hamil, kondisi pembengkakan pada kaki juga dapat berkontribusi pada meningkatnya frekuensi buang air kecil, karena saat berbaring, cairan dari tubuh dapat kembali ke aliran darah dan memicu kebutuhan untuk berkemih.
Dampak Negatif dari Nokturia Terhadap Kualitas Tidur
Nokturia bukan hanya masalah yang mengganggu kenyamanan, tetapi juga dapat memicu masalah kesehatan lainnya. Menurut penelitian, seseorang yang sering terbangun di malam hari memiliki risiko lebih tinggi mengalami insomnia.
Hal ini dapat menciptakan siklus yang tidak menguntungkan, di mana nokturia memperburuk masalah tidur dan sebaliknya. Memperbaiki salah satu aspek tersebut akan memerlukan perhatian dan penanganan yang tepat.
Kendati tampak sepele, terbangun berkali-kali di malam hari juga dapat meningkatkan risiko jatuh. Menurut sebuah studi, risiko patah tulang dapat meningkat hingga 32% bagi mereka yang sering terbangun pada malam hari.
Situasi ini mempertegas pentingnya mencari solusi ketika seseorang mengalami nokturia secara berlebihan. Berkonsultasi dengan profesional medis menjadi langkah awal yang bijaksana.
Frekuensi nokturia yang tinggi sampai menyebabkan ngompol atau mengganggu aktivitas harian merupakan tanda bahwa sudah saatnya mengambil tindakan lebih lanjut.
Cara Efektif untuk Mencegah Nokturia dan Memperbaiki Kualitas Tidur
Untuk mencegah nokturia, terdapat beberapa langkah praktis yang bisa diambil. Menghindari konsumsi minuman berkafein, seperti teh dan kopi, adalah salah satu cara yang efektif, karena zat-zat tersebut dapat merangsang produksi urine lebih banyak.
Selain itu, penting untuk menghindari konsumsi alkohol menjelang tidur. Alkohol dapat menyebabkan gangguan tidur dan meningkatkan frekuensi buang air kecil.
Pengaturan pola makan juga perlu diperhatikan. Mungkin Anda perlu membatasi asupan makanan yang mengandung banyak air, seperti semangka atau anggur, serta mengurangi jumlah garam dalam makanan sehari-hari.
Posisi tidur yang baik juga dapat membantu. Jangan ragu untuk mencoba posisi di mana kaki lebih tinggi dibandingkan tubuh, agar mencegah pembengkakan yang dapat memengaruhi kapasitas kandung kemih.
Jika semua langkah ini sudah dilakukan namun masalah nokturia masih berlanjut, sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan evaluasi lebih lanjut dan mengetahui kemungkinan perawatan yang tepat.










